journal de 'SHE'

Archive for April, 2011|Monthly archive page

Untuk Sang Pangeran kecil

In Catatan harian SHE on 23/04/2011 at 11:23 pm

Ini hari masih saja penuh dengan duka. Malam kelam, kejam. Tampakkan sinar maya rembulan pucat pudar. Malam tikam dengan hembus dingin. Biarkan seekor kepompong kecil tumbuh menyendiri, nikmati tiupan angin bersama bayang. Bayang yang selalu menghitam gelap, sembunyikan riang di sela-sela kulit keemasannya.

Dia kira bayang itu seorang teman karena hembusan napasnya selalu menghuyungkan tubuh mungilnya. Dia kira bayang itu seorang kekasih karena belaian perhatiannya selalu membuatnya merasa hangat di dalam kulit sana. Namun dia tahu, dia sedang bersembunyi di balik bayang itu bersama rasa cemas dan rindu.

Dengan berjalannya waktu, kepompong kacil pun mulai temukan kekuatan tuk menyobek kulit licin keemasannya perlahan. Sambil menggeliat coba kembangkan sayap-sayap rapuhnya. Di luar sana terlihat dedaun berguguran, bunga-bunga pun merekah kembang dibawah tarian lebah-lebah madu. Angin membelai lembut seakan menyambut kelahiran makhluk mungil nan indah itu. Dunia, aku datang..!!!

(Sebuah proses singkat yang terasa begitu melelahkan)

Tanpa sadar, ternyata sepasang mata tengah memperhatikannya dari balik semak. Mata yang begitu suci tanpa dosa senoktah pun. Sungguh tatapan lugu dari seorang pangeran kecil. Tak beranjak lama, sepasang mata itu pun datang mengejar pelan. Terdengar dedaun kering terseok terombang-ambing gelombang angin dari sela kaki sang pengeran kecil. Dia benar-benar girang! Tanpa ampun, tangan-tangan kecilnya pun mulai coba meraih makhluk indah yang kini sedang mencoba terbang dengan sayap-sayap barunya. Ternyata sulit, bahkan sangat sulit! Namun sang pangeran kecil tetap berlari dan tak henti mengejar hingga separuh napasnya telah terbagi tuk pepohonan dan serangga-serangga kecil di sekelilingnya. Tanpa sadar, sang pangeran kecil mulai melukai si kupu-kupu…

***

Masa yang selalu saja berganti dan sekarang…

Si kupu-kupu sedang terbang bebas seorang diri. Tanpa seekor kupu-kupu lain menemani dan tanpa sorotan sepasang mata mungil yang dulu tak pernah lelah lari mengejarnya.

Si kupu-kupu mulai coba mencari suatu makhluk yang katanya bernama bahagia. Dia pun hinggap dari satu pohon ke pohon lain. Dia hisap madu di tiap-tiap bunga yang dijumpai. Dia tinggalkan jejak-jejak dari keenam kakinya yang terasa semakin kokoh. Tak sedetik pun ia menyerah pada waktu, pada dingin yang menusuk, dan pada malam yang menikam. Namun untungnya malam kini sedikit berbaik hati, dia perlihatkan kekasih-kekasihnya dengan muka penuh senyum.

Bintang-bintang menari riang di atas lensa si kupu-kupu. Angin menyanyikan lagu rindu dan terlelap.

Bahagia, aku mencarimu..

-Sang Pangeran kecil- 

_____________

Begitu terbangun, kupu-kupu melihat sepasang tatapan tajam yang tak asing. Tapi bola mata itu terlihat lebih bersemangat dari yang lalu. Ada sebuah harapan, ada sebuah penantian, dan sebuah kepuasan batin yang terlihat jelas.

Oh..tidak!!! Dia kembali mengejar si kupu-kupu yang kini tak kecil lagi. Samar terdengar dia berteriak “bahagia…!! Yah, kau bahagia!!”

Bahagia?

Ya Tuhan, ternyata selama beberapa musim sang pangeran kecil juga mencari makhluk bernama bahagia, seperti halnya si kupu-kupu. Dan kini, ia mengira kupu-kupu itu adalah bahagia. Lagi-lagi Pangeran kecil ingin mencoba menjamah sudut-sudut jari si kupu-kupu. Ah, ternyata dia tidak sanggup melakukannya. Pangeran kecil akhirnya terpaku, ujung-ujung langkah kecilnya selalu dihinggapi bayang. Bahkan sekarang bayang itu kembali menusuk silam duka.

Si kupu-kupu sudah tak sanggup lagi melanjutkan pencariannya akan bahagia. Melihat sang pangeran terpaku, kupu-kupu pun ikut terpaku.

Andaikan aku bisa berkata padanya kalau aku bukan bahagia,

kalau aku justru mencari bahagia,,

Perlahan sayap kupu-kupu melemah, terbangnya merendah, dan keindahan tubuhnya pun memudar.

Dia tak pernah mengenal cinta, tapi dia selalu yakin ‘kan bahagia..

________________

Bandung, 30.12.05

Advertisements

Sederhana saja..

In Puisi SHE on 23/04/2011 at 11:13 pm

Sayang ini hanya sebuah rasa yang sederhana

Ingin melindungi, saling berbagi dan mengisi

Selalu ada entah itu saat tertawa atau tangis yang mengisak

Sayang ini hanyalah satu bentuk ketulusan

Ikhlas memberi tanpa mengharap asa kan terbalas

Ikut tersenyum saat kau temui bahagiamu

Juga merasa pedih ketika ragamu tak lagi kuat menahan jiwa yang lemah

Sederhana saja,

Aku ingin berbagi dan mengisi setiap hela nafasku kemudian melangkah di sampingmu

Aku ingin menciptakan garis tawa dan menghapus air mata mu

Aku ingin ada ‘kita’ setiap akan memejamkan mata hingga kembali terbangun saat adzan subuh tiba

Aku ingin semua itu karena aku sayang kamu

Sederhana kan?

Sayang, lalu apa yang membuatmu memintaku membunuh sayang itu?

________________

Bandung, 02.05.08

Balada dua hati

In Puisi SHE on 23/04/2011 at 11:11 pm

Mengapa rasa sayang itu harus hadir bersama rasa sakit?

Ketika kau melihat  aku menangis, tak perlu bingung atau merasa bersalah

Karena tiap tetes yang terjatuh, itu nunjukin kalau aku makin sayang walau akupun makin terluka karenanya


Apa yang harus kuperbuat bila rasa sayang itu menimbulkan luka?

Tidak hanya untukmu, tetapi duri tajam itu mengiris dasar hatiku

Mengapa sayang yang hadir harus menimbulkan luka?

Tuhan..hukumlah aku!

Karena aku pria lemah yang tak bisa menjaga perasaan hatimu


Tidurlah..

Mungkin hanya bunga tidur yang bisa membuang semua rasa sakit itu

Aku pun ingin terlelap bersama jutaan rasa sakit dari luka-luka ku dan baru akan terbangun ketika aku siap  tuk kembali disakiti


Apa gunanya bunga tidur jika kau tetap sakit setelah terbangun?

Apa gunanya aku bila kau selalu sakit karena aku?

Memang pedih, pedih juga di hatiku

Namun ku hanya bisa merasa tak ada yang bisa kuperbuat karena aku hanya manusia yang tiada arti

 __________

Keduanya pun mulai lelah,

Bersama senyap malam akhirnya mereka terlelap dengan tetap menyimpan rasa sayang di tiap relung jiwa mereka, walau mereka harus  tertidur dengan rasa sakit yang amat sangat..

 ___________________

Bandung, 18.01.07

 

Batas lelahku

In Puisi SHE on 23/04/2011 at 11:07 pm

Aku sadar,

Dia rapuh, bahkan terlalu rapuh untuk memilih antara yang nyata dengan yang absurd

Sayang yang absurd, cinta yang absurd, aku yang absurd

Syukurnya aku kuat, aku benar-benar kuat, aku harus kuat!

Karena ini bukan yang pertama

Karena ini jalan yang kita pilih bersama

Kita – aku dan asmara

Ra.. (begitu biasa aku menyebutnya)

Terimakasih telah hadir dalam hari-hariku walau sesaat

Terimakasih telah sayang padaku walau sedikit

Terimakasih telah membuatku tersenyum walau sebenarnya terasa sakit

Sekarang aku minta, tolong enyah dariku, Ra!

Karena tanpamu (ku harap) kutemukan kebahagiaanku

Akhirnya,

Ketika dia kembali pada seseorang yang dicintai dan mencintai

Akupun kembali pada sendiri yang kucintai dan mencintai

Dan lagi dengan sebuah tanda tanya besar;

Kapan akan kau tamatkan kisah ini??

Demi Tuhan, Ra, aku benar-benar sudah lelah..

__________

Bandung, 29.12.06

Berhenti bertanya mengapa aku menangis!

In Puisi SHE on 23/04/2011 at 11:03 pm

Semua mulai bertanya,

Semua mulai berteriak,

“Hentikan keputusasaan itu!

  Hidup masih panjang walau tak selamanya indah

  Jalan masih banyak walau dengan ratusan cabangnya

  Dan masa depan masih menunggu walau entah kebahagiaan atau

  air mata (lagi) yang akan ia tawarkan”

Aku pun kembali bertanya dan akhirnya berteriak,

“Aku harus apa?!!”

Tolong, berhenti bertanya mengapa aku menangis..

Aku mulai lelah,

Aku mulai tak bertenaga,

Jiwa.. raga.. hati

Aku ada hanya untuk mati.

___________

Bandung, 15.12.06

Sepasang kaki lelaki

In Puisi SHE on 23/04/2011 at 11:00 pm

Aku hanya melangkahkan kedua kakiku seiring hembusan angin tanpa kaki-kaki lain menemani

Tak tahu berapa jarak telah kutempuh hingga jejari kian melepuh

Terseok bersama ratusan lembar daun kering, gersang!

Hanya banyang yang terbayang

Lalu datang sepasang kaki lain

Aku kira ia datang untuk menemani, tapi nyata langkahnya hadir beserta ucapan mengasihani:

‘Sebaiknya kau cari sepasang kaki lelaki agar kau tak lagi sendiri’

____________ 

Bandung, 07.08.06

Tinta dan Kertas

In Puisi SHE on 23/04/2011 at 10:58 pm

Setiap aku kesulitan tuk memejamkan mataku dan hijrah ke alam tak sadarku

Aku minta pada tinta tuk sejenak menjenguk kertas

Sekedar menyapa atau bahkan menumpahkan segala yang kurasa

Mungkin hari itu aku sedang sedih, mungkin juga bahagia atau malah sedang bingung

Apapun itu, tinta dan kertas tak pernah bertanya

Bukan karena mereka tak peduli, tapi karena mereka begitu mengerti kalau aku sedang ingin didengar

Bukan diintrogasi!

________________

Bandung, 20.07.06

‘HBL’

In Catatan harian SHE on 23/04/2011 at 9:37 pm

“Iya, lo tuh kenapa sih She?

“She ga suka laki-laki. Dia ga butuh laki-laki. Dia hanya butuh map buat nuntun dia jalan. Itu juga sudah cukup”

“Kayaknya dia trauma, makanya dia benci banget sama yang namanya laki-laki..”

 “Semua laki-laki itu brengsek di mata She”.

_____________

Tidak, ini hanya masalah bagaimana aku selalu mengorientasikan akalku secara rasional, memandang segala sesuatunya selogis mungkin. Ini hanya masalah mengapa perempuan selalu jadi korban opresi seorang laki-laki. Bukan sengaja membuat masalah atau sekedar cari sensasi. Ini masalah prinsip. Prinsip untuk tidak disakiti lagi, untuk membentengi seluruh raga dan rasaku dari apapun yang bisa menumpulkan otak kiriku, juga dari semua yang bisa merangsang perasaanku hingga mengoyak kelenjar air mataku yang mungkin persediaan air mata di dalamnya hanya cukup untuk menangis dua kali lagi aku rasa.

Aku. She. Seorang perempuan yang masih punya hati nurani. Walaupun kata orang aku dingin. Walaupun rumput kering yang selalu ku injak dan matahari pagi yang hampir tidak pernah kusapa menganggapku Si Pongah yang Kesepian. Aku tetap seorang She. Perempuan yang  terperangkap pada pola pikir rasionalistis seorang laki-laki. Simpel. Tidak rumit. Dan satu kata sifat lagi yang cukup mendeskripsikan aku- mandiri.

Beberapa orang tahu mengapa aku memilih untuk sendiri, walaupun kadang mereka cenderung sok tahu. Lesbi kali! Ahaha..anehnya aku tidak pernah keberatan dengan tudingan seperti itu. Kalau aku boleh bocorkan sedikit rahasiaku, aku memang lebih suka memandangi perempuan-perempuan cantik daripada laki-laki tampan, tapi hanya sampai di situ saja kok. Kalau ada yang menyebutku angkuh, ya, mungkin, bisa saja, tidak salah juga. Apapun itu, satu hal yang perlu aku garis bawahi di sini adalah bahwa aku juga perempuan yang masih haus akan belaian laki-laki (kalau kata anak-anak muda jaman sekarang- entah konteks ‘sekarang’ di sini mulai periode tahun berapa hingga berapa- ‘HBL’). Dan perlu ditambah lagi dengan huruf Italic, hanya haus akan belaian laki-laki yang sepenuhnya bisa menghargai nilai-nilai seorang perempuan. Itu saja.

____________________

Bandung, 2005

Une féministe

In Catatan harian SHE on 23/04/2011 at 8:04 pm

Aku. She. Mungkin aku seorang feminis. Entahlah. Tapi aku setuju dengan apa yang ditulis Rosemarie Putnam Tong dalam bukunya yang berjudul Feminist Thought. Seorang feminis memiliki kebebasan penuh untuk memerdekakan cara berpikir mereka, pemikiran yang membawa mereka pada situasi penolakan untuk berhenti berubah, berhenti tumbuh. Bahwa pemikiran feminis tidak akan pernah berakhir sehingga memungkinkan setiap perempuan untuk berpikir dengan pemikirannya sendiri. Bukan kebenaran semata tetapi kebenaran yang akan membebaskan perempuan dari opresi patriarki. ‘Jika tubuh perempuan adalah suatu keseluruhan, keseluruhan itu terdiri dari bagian yang juga lengkap dan menyeluruh, dan bukan objek parsial semata-mata, melainkan suatu kesatuan yang terus bergerak dan berubah secara tidak terbatas’[1].

‘One is not born, rather becomes a woman’.[2]Perempuan tidak semata-mata dilahirkan, perempuan adalah suatu proses menjadi’. Dan proses menjadi tidak pernah berakhir. Aku. She. Seorang perempuan yang tak pernah berhenti berproses. Berpikir. Mencari jawaban logis atas segala apa yang terjadi, baik pada diriku juga orang-orang di sekitarku. Mencari alasan paling rasional atas apa yang membentukku seperti sekarang ini, membentuk pemikiranku dan pemikiran orang-orang terhadap aku. Menjawab keingintahuan mereka tentang alasan mengapa aku memilih untuk sendiri. Setidaknya hingga detik ini.

Pengetahuanku tentang feminis memang masih sangat dangkal. Tapi setiap ada yang menyebutku seorang feminis, akupun tidak menyangkal. Bahwa aku seorang perempuan yang terperangkap pada pola pikir rasionalistis seorang laki-laki. Pernah beberapa kali aku berpikir untuk menjadi seorang laki-laki (dengan begitu banyak alasan tentunya) – dan tanpa disangka menimbulkan banyak spekulasi dalam komunitas teman-teman laki-lakiku. Itu karena kebencianku terhadap laki-laki, tetapi juga karena kecocokanku dengan kelogisan cara berpikir mereka dalam beberapa hal. Itu karena aku merasa lebih nyaman bersama teman-teman laki-laki daripada teman perempuan yang cenderung sentimentil dan memperuwet keadaan. Tapi juga karena aku terlalu sering dikecewakan oleh laki-laki. Karena seringkali perempuan terlalu lemah untuk berpikir pakai otak, cenderung bahkan selalu pakai hati. Perasa. Naif. Jangan-jangan cinta menjadi sedemikian unlogic-nya karena perempuan?! Dancuk!

Aku menjadi sedemikian tidak mengertinya mengapa perempuan selalu menjadikan laki-lakinya sebagai ‘satu-satunya’ sedangkan laki-laki hanya menganggap perempuannya sebagai ‘salah satunya’? Pantas saja jika perempuan sering dijadikan objek opresi kaum adam, jika poligami lebih menjamur daripada poliandri, jika sebagian besar orang yang berselingkuh adalah laki-laki dan hanya perempuan bodoh yang mau diselingkuhi ataupun jadi selingkuhan. Dan ternyata jumlah perempuan seperti ini tidak sedikit.

Awalnya- bahkan hingga sekarang-  aku masih berpikir seperti itu. Secara logika, alasan paling rasional apa yang membuat perempuan mau jadi selingkuhan? Kalau jawabannya uang mungkin masih masuk akal (walaupun kita bisa menganggap itu adalah uang haram. Tapi lagi-lagi, money is not everything, but everything needs money). Lalu jika alasannya adalah hanya bersenang-senang? Dari sudut pandang seperti apa menjalin hubungan sembunyi-sembunyi, dibohongi dan membohongi bisa menciptakan sebuah pleasure? (secara batiniah terutama). Belum lagi jika ketahuan dan tidak bisa lari dari cap ‘perempuan perusak hubungan orang lain’. Selalu menjadi prioritas kedua. Cadangan jika bibir perempuan pertamanya tidak lagi ranum. Jika kata-kata sayangnya tidak lagi ampuh. Jika perasaan bosan dan ingin ‘bermain’ sedang menggoda laki-laki. Jika ‘jiwa penguasa’ laki-laki sedang bergejolak. Dimana posisi perempuan kedua ditempatkan oleh laki-laki? Tentunya tidak akan lebih baik dari tangan bocah ingusan menempatkan boneka kesayangan mereka. Sial! Sebenarnya siapa yang paling pantas untuk disalahkan dalam situasi ini? Laki-lakinya yang brengsek atau perempuannya yang bodoh?

Setidaknya aku masih yakin bahwa setiap manusia -perempuan khususnya- pasti memiliki alasan atas jalan hidup yang mereka pilih, atas cara pandang yang mereka yakini.  Seperti mengapa seseorang mau jadi selingkuhan atau diselingkuhi, tanpa logika, tanpa rasio, tanpa akal. Spekulatif tapi hampir pasti, itu semua karena sayang”, karena “cinta”. Ya, satu rasa yang tak seorang pun berhak melarangnya. Rasa yang tak pernah bisa dijabarkan secara logika. Absurd.

Oh..Tuhan, kenapa aku ini? Apa aku sebodoh itu? Apa aku sudah kehilangan akal sehatku? Atau aku sedang dibutakan oleh rasa yang tak pernah berani kusentuh selama ini? Aku ingin semua baik-baik saja. Aku ingin hubungan yang normal. Aku ingin dicintai dan mencintai laki-laki yang hanya dicintai dan mencintaiku. Aku tidak pernah ingin jadi yang kedua, meskipun aku juga tidak pernah ingin jadi yang pertama. Aku hanya ingin menjadi tunggal di hati laki-lakiku. Aku hanya ingin menjadi perempuannya, sendiri, tanpa ada bayang-bayang perempuan lain. Dan aku tidak pernah ingin terlihat lemah di mata laki-laki manapun.


[1] Cixous, Helene, “Utopias”, New Frencsh Feminism-An Anthology, New York, Schocken Books, 1981, hlm.259

[2] Beauvoir, Simone de, The Second Sex, Parshley. Terj., Vintage, 1997, hlm.295

__________________

Bandung, 2006

Mengapa aku begitu angkuh?

In Puisi SHE on 23/04/2011 at 7:58 pm

Jika pongah tubuhku begitu membuatmu muak, maka jangan pernah mengemis sesuatu pun merengek akan hal yang jelas tak ku punya.

Jika bibirku tak pernah sunggingkan senyum dan mataku selalu tajam pamerkan kalau aku sanggup bertahan dalam kesendirianku, kemudian kakiku yang dengan tegas melawan arah angin membuat dedaun kering terseok seakan tunduk pada keangkuhan yang mengkungkungku, itu semata-mata mementaskan sandiwara seorang gadis yang kesepian.

Lalu jika kau (sebagai penikmat) hanya bisa berinterupsi, sebaiknya bungkam semua itu!

Karena tak sesuatupun dapat merajam api yang menyiksaku!

Entah api apa yang lidahnya tidak hanya membakar asa, tapi juga kepercayaanku tuk kembali mencintai.

Untuk kaum Adam, silahkan cari Hawa lain!

___________________________________

Bandung, 04.09.05