journal de 'SHE'

Une féministe

In Catatan harian SHE on 23/04/2011 at 8:04 pm

Aku. She. Mungkin aku seorang feminis. Entahlah. Tapi aku setuju dengan apa yang ditulis Rosemarie Putnam Tong dalam bukunya yang berjudul Feminist Thought. Seorang feminis memiliki kebebasan penuh untuk memerdekakan cara berpikir mereka, pemikiran yang membawa mereka pada situasi penolakan untuk berhenti berubah, berhenti tumbuh. Bahwa pemikiran feminis tidak akan pernah berakhir sehingga memungkinkan setiap perempuan untuk berpikir dengan pemikirannya sendiri. Bukan kebenaran semata tetapi kebenaran yang akan membebaskan perempuan dari opresi patriarki. ‘Jika tubuh perempuan adalah suatu keseluruhan, keseluruhan itu terdiri dari bagian yang juga lengkap dan menyeluruh, dan bukan objek parsial semata-mata, melainkan suatu kesatuan yang terus bergerak dan berubah secara tidak terbatas’[1].

‘One is not born, rather becomes a woman’.[2]Perempuan tidak semata-mata dilahirkan, perempuan adalah suatu proses menjadi’. Dan proses menjadi tidak pernah berakhir. Aku. She. Seorang perempuan yang tak pernah berhenti berproses. Berpikir. Mencari jawaban logis atas segala apa yang terjadi, baik pada diriku juga orang-orang di sekitarku. Mencari alasan paling rasional atas apa yang membentukku seperti sekarang ini, membentuk pemikiranku dan pemikiran orang-orang terhadap aku. Menjawab keingintahuan mereka tentang alasan mengapa aku memilih untuk sendiri. Setidaknya hingga detik ini.

Pengetahuanku tentang feminis memang masih sangat dangkal. Tapi setiap ada yang menyebutku seorang feminis, akupun tidak menyangkal. Bahwa aku seorang perempuan yang terperangkap pada pola pikir rasionalistis seorang laki-laki. Pernah beberapa kali aku berpikir untuk menjadi seorang laki-laki (dengan begitu banyak alasan tentunya) – dan tanpa disangka menimbulkan banyak spekulasi dalam komunitas teman-teman laki-lakiku. Itu karena kebencianku terhadap laki-laki, tetapi juga karena kecocokanku dengan kelogisan cara berpikir mereka dalam beberapa hal. Itu karena aku merasa lebih nyaman bersama teman-teman laki-laki daripada teman perempuan yang cenderung sentimentil dan memperuwet keadaan. Tapi juga karena aku terlalu sering dikecewakan oleh laki-laki. Karena seringkali perempuan terlalu lemah untuk berpikir pakai otak, cenderung bahkan selalu pakai hati. Perasa. Naif. Jangan-jangan cinta menjadi sedemikian unlogic-nya karena perempuan?! Dancuk!

Aku menjadi sedemikian tidak mengertinya mengapa perempuan selalu menjadikan laki-lakinya sebagai ‘satu-satunya’ sedangkan laki-laki hanya menganggap perempuannya sebagai ‘salah satunya’? Pantas saja jika perempuan sering dijadikan objek opresi kaum adam, jika poligami lebih menjamur daripada poliandri, jika sebagian besar orang yang berselingkuh adalah laki-laki dan hanya perempuan bodoh yang mau diselingkuhi ataupun jadi selingkuhan. Dan ternyata jumlah perempuan seperti ini tidak sedikit.

Awalnya- bahkan hingga sekarang-  aku masih berpikir seperti itu. Secara logika, alasan paling rasional apa yang membuat perempuan mau jadi selingkuhan? Kalau jawabannya uang mungkin masih masuk akal (walaupun kita bisa menganggap itu adalah uang haram. Tapi lagi-lagi, money is not everything, but everything needs money). Lalu jika alasannya adalah hanya bersenang-senang? Dari sudut pandang seperti apa menjalin hubungan sembunyi-sembunyi, dibohongi dan membohongi bisa menciptakan sebuah pleasure? (secara batiniah terutama). Belum lagi jika ketahuan dan tidak bisa lari dari cap ‘perempuan perusak hubungan orang lain’. Selalu menjadi prioritas kedua. Cadangan jika bibir perempuan pertamanya tidak lagi ranum. Jika kata-kata sayangnya tidak lagi ampuh. Jika perasaan bosan dan ingin ‘bermain’ sedang menggoda laki-laki. Jika ‘jiwa penguasa’ laki-laki sedang bergejolak. Dimana posisi perempuan kedua ditempatkan oleh laki-laki? Tentunya tidak akan lebih baik dari tangan bocah ingusan menempatkan boneka kesayangan mereka. Sial! Sebenarnya siapa yang paling pantas untuk disalahkan dalam situasi ini? Laki-lakinya yang brengsek atau perempuannya yang bodoh?

Setidaknya aku masih yakin bahwa setiap manusia -perempuan khususnya- pasti memiliki alasan atas jalan hidup yang mereka pilih, atas cara pandang yang mereka yakini.  Seperti mengapa seseorang mau jadi selingkuhan atau diselingkuhi, tanpa logika, tanpa rasio, tanpa akal. Spekulatif tapi hampir pasti, itu semua karena sayang”, karena “cinta”. Ya, satu rasa yang tak seorang pun berhak melarangnya. Rasa yang tak pernah bisa dijabarkan secara logika. Absurd.

Oh..Tuhan, kenapa aku ini? Apa aku sebodoh itu? Apa aku sudah kehilangan akal sehatku? Atau aku sedang dibutakan oleh rasa yang tak pernah berani kusentuh selama ini? Aku ingin semua baik-baik saja. Aku ingin hubungan yang normal. Aku ingin dicintai dan mencintai laki-laki yang hanya dicintai dan mencintaiku. Aku tidak pernah ingin jadi yang kedua, meskipun aku juga tidak pernah ingin jadi yang pertama. Aku hanya ingin menjadi tunggal di hati laki-lakiku. Aku hanya ingin menjadi perempuannya, sendiri, tanpa ada bayang-bayang perempuan lain. Dan aku tidak pernah ingin terlihat lemah di mata laki-laki manapun.


[1] Cixous, Helene, “Utopias”, New Frencsh Feminism-An Anthology, New York, Schocken Books, 1981, hlm.259

[2] Beauvoir, Simone de, The Second Sex, Parshley. Terj., Vintage, 1997, hlm.295

__________________

Bandung, 2006

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: