journal de 'SHE'

Archive for the ‘Catatan harian SHE’ Category

Lelaki itu bernama Harry

In Catatan harian SHE on 09/05/2011 at 5:48 pm

Maafkan kekasih tercinta

Maafkan ku tak bisa lagi

Maafkan kekasih tercinta

Tak akan ada kisah lagi

Meskipun terasa manis tetapi harus kita akhiri

Meskipun terasa indah

Selingkuh tak membawa bahagia

 

Malam yang dingin. Hanya ditemani musik dari komputer yang sudah kunyalakan sejak tadi pagi. Seperti biasa, sendiri, sambil mengerjakan tugas. Lagu yang indah. Lirik yang membuatku teringat seseorang..

Apa yang membuat dia berselingkuh dari pasangannya?

_______________

“Mungkin dia lagi bosan sama pacarnya”, celetuk salah satu teman kelas ku. Waktu itu mereka memang sedang membahas tentang perselingkuhan. Mungkin gara-gara kebanyakan nonton infotainment.

“Emang cowoknya aja yang brengsek! Kalo emang udah bosan, putusin aja ceweknya, terus cari cewek lain lagi deh! Jangan nge-dua-in kayak gitu dong! Mana ada perempuan yang mau dimadu?!!”, salah satu temanku yang lain ikut menimpali.

Melihat mereka berdebat aku hanya terdiam. Berpikir. Siapa yang benar? Menurutku keduanya tidak salah.

“Bukan, itu cuma ego dari laki-laki. Kalau mereka bisa mendapatkan dua atau tiga perempuan, kenapa mesti satu? Ya ga?”, kata senior kami yang juga asisten dosen kuliah saat itu sekaligus mengakhiri perdebatan kami dan membuka kuliah dalam kelas.

_______________

Benar-benar malam yang dingin. Membuatku ingin tidur. Lelah. Mata terasa sangat berat, sudah dua malam ini aku selalu tidur jam tiga pagi. Mengerjakan tugas yang tak pernah ada habisnya. Tapi mengapa lirik lagu tadi masih terngiang di kepalaku? Padahal komputer sudah kumatikan.

Ah..sosok itu, orang di masa lalu. Harry. Dia berselingkuh. Menduakan kekasihnya. Sejak empat bulan hari jadian mereka hingga genap tiga tahun mereka menjalin kasih. Selama itu pula ia khianati cinta perempuannya. Perempuan yang entah memang tidak tahu atau pura-pura tidak tahu kalau laki-laki yang kerap berkata sayang dan menciumi bibirnya telah berselingkuh. Memberi sayang dan ciuman itu kepada perempuan lain.

Sungguh Harry, apa yang sebenarnya ada dalam benakmu? Perempuanmu cantik. Pintar kau memilihnya. Apa yang kurang? Kurang baikkah? Lalu mengapa tak kau putuskan saja? Cari yang lebih baik. Kalau beruntung sekalian yang lebih cantik juga. Lengkap sudah. Atau kurang cerdas? Kau akan menyesal jika suatu saat menyadari bahwa perempuanmu memiliki point IQ tiga angka lebih tinggi darimu. Tidak perlu terlalu cerdas. Toh kaupun tidak begitu mahir di bidang akademis bukan? Lalu apa yang membuatmu berselingkuh? Hidup ini pilihan Harry. Kau harus memilih satu. Karena setiap orang memiliki bagiannya masing-masing. Memang jumlah perempuan di dunia ini jauh lebih banyak daripada laki-laki, tapi itu bukan alasan untukmu berselingkuh.

_______________

“Aku sayang kamu she..”, dengan lembut kata-kata itu keluar dari sepasang bibir yang baru saja meninggalkan bau asap rokok di bibirku dan entah di bibir perempuan mana lagi. Busuk! Kata-kata yang terlalu mudah untuk diucap. Semua laki-laki bisa bilang begitu. Semua itu hanya di mulut kan?! Sedang hatimu? Pikiranmu? Jiwamu? Entah semua itu kau kemanakan. Dan hingga detik ini, aku selalu berusaha membuang rasa percayaku padamu.

“Kenapa aku harus kenal kamu?! Kenapa kamu harus datang di kehidupan aku Ry?!”

“She..”

“Kenapa sih kamu ga pernah nyerah?! Padahal aku selalu bilang ngga! Kita ga bisa kayak gini! Kamu milik orang lain Ry. Aku salah kalau ngebiarin perasaan sayang ini tumbuh”

“She..dengerin aku dulu. Aku tahu ini salah. Aku yang salah..”

“Iya..!! Kamu yang salah!!”

“She, aku minta maaf, berjuta-juta maaf. Ini pasti buat kamu bosan dan capek. Aku sedih ngeliat keadaan kita kayak gini. Tapi aku juga bener-bener ga tau harus gimana, She..”

Aku menangis. Hatiku menjerit menyuruhnya segera enyah dari hadapku. Semua terasa begitu menyakitkan. Perih. Bagaimanapun aku mencoba menghapus air mata ini, tapi rasanya tidak bisa. Kepala ku mulai sakit. Napas ku mulai menipis.

“Aku emang brengsek! Aku udah nyakitin perasaan kamu. Tapi kalau aku masih boleh jawab, kita ambil saja arti positif dari pertemuan kita dan semua keadaan tentang kita ini, She.. Mungkin Tuhan ngebiarin kita ketemu supaya kamu bisa tau apa rasa sayang itu, walaupun aku tau bahwa cara kita ini salah. Maaf kalau aku lancang, tapi setidaknya biarkanlah hal ini menjadi jawaban dari kisah kita..”

“Sekali lagi aku minta maaf She, maaf kalau udah ngeganggu, ngebayangin, dan nyakitin kamu. Walau ga ada jalan keluar dan akhir bahagia buat kita seperti yang pernah kamu bilang, tapi semua ini terjadi karena aku sayang sama kamu.. ”

Dan aku benci ketika harus mendengar kata sayang keluar dari bibir Harry. Aku benci jika harus mengalah. Aku benci ketika air mata ini harus kembali dan terus menetes. Aku benci ketika tubuh ini seakan tak berdaya dan terjatuh tepat dipelukannya. Aku tidak ingin percaya. Aku benci untuk percaya. Aku benci karena aku tidak sanggup untuk membenci. Tapi aku sayang dia. Sangat sayang. Oh..aku lemah. Aku kalah. Kali ini aku benar-benar kalah. Otakku membeku, aliran darahku terpusat pada hatiku, perasaanku, naluri keperempuananku. Aku sayang kamu Ry. Seandainya kamu tahu itu. Lalu bagaimana dengan perempuanmu? Aku juga perempuan. Aku tidak ingin laki-lakiku membagi sayang dan ciumannya untuk perempuan lain. Aku ingin menjadi tunggal di hatimu Ry. Esa yang abadi.

“Pulanglah Ry. Aku capek, aku ingin tidur”.

“Ya sudah, kamu jangan sedih lagi ya. Jangan nangis. Janji? Aku sayang kamu She..” ucapnya seraya meninggalkan satu kecupan hangat yang selalu saja bisa membuat aku, seorang She, luluh.

“Iya.”

Aku juga sayang kamu Ry, sangat sayang…

 

Malam terasa semakin dingin, selimut pun kutarik menutupi seluruh ragaku. Tapi tetap saja tidak membuatku merasa hangat, tetap gelisah. Ingatan tentang Harry mengajak angin malam menjilati tulang-tulangku. Mengiris kelenjar air mataku, terisak. Kembali menangis seperti aku menangis ketika itu, bedanya kali ini aku sendiri tanpa Harry, tanpa lengan dan tubuh hangat yang sanggup mendekapku dan membuatku terlelap tanpa ingin terbangun lagi. Sosok laki-laki yang tidak pernah berhenti membawa kejutan dalam hari-hariku, kejutan yang sudah dia berikan sejak pertama kita bertatap mata di depan pintu rumahku.

_______________

“Hai She…” sebuah suara laki-laki tiba-tiba menyapa dan membuat jantung ini berhenti sejenak.

“….” diamku heran. Mengapa sosok yang pernah ku kagumi 3 tahun lalu kini bisa berdiri tepat di depanku? Mata yang dulu bahkan tidak pernah melirikku kini sedang menatap hangat padaku. Sepasang bibir tipis yang ketika itu hampir tidak pernah tersenyum, sekarang menyebut fasih namaku, ramah.

“She? Gw Harry” ucapnya lembut sambil menyodorkan tangannya.

“She..” balasku singkat.

_______________

Bandung, 2007

Untuk Sang Pangeran kecil

In Catatan harian SHE on 23/04/2011 at 11:23 pm

Ini hari masih saja penuh dengan duka. Malam kelam, kejam. Tampakkan sinar maya rembulan pucat pudar. Malam tikam dengan hembus dingin. Biarkan seekor kepompong kecil tumbuh menyendiri, nikmati tiupan angin bersama bayang. Bayang yang selalu menghitam gelap, sembunyikan riang di sela-sela kulit keemasannya.

Dia kira bayang itu seorang teman karena hembusan napasnya selalu menghuyungkan tubuh mungilnya. Dia kira bayang itu seorang kekasih karena belaian perhatiannya selalu membuatnya merasa hangat di dalam kulit sana. Namun dia tahu, dia sedang bersembunyi di balik bayang itu bersama rasa cemas dan rindu.

Dengan berjalannya waktu, kepompong kacil pun mulai temukan kekuatan tuk menyobek kulit licin keemasannya perlahan. Sambil menggeliat coba kembangkan sayap-sayap rapuhnya. Di luar sana terlihat dedaun berguguran, bunga-bunga pun merekah kembang dibawah tarian lebah-lebah madu. Angin membelai lembut seakan menyambut kelahiran makhluk mungil nan indah itu. Dunia, aku datang..!!!

(Sebuah proses singkat yang terasa begitu melelahkan)

Tanpa sadar, ternyata sepasang mata tengah memperhatikannya dari balik semak. Mata yang begitu suci tanpa dosa senoktah pun. Sungguh tatapan lugu dari seorang pangeran kecil. Tak beranjak lama, sepasang mata itu pun datang mengejar pelan. Terdengar dedaun kering terseok terombang-ambing gelombang angin dari sela kaki sang pengeran kecil. Dia benar-benar girang! Tanpa ampun, tangan-tangan kecilnya pun mulai coba meraih makhluk indah yang kini sedang mencoba terbang dengan sayap-sayap barunya. Ternyata sulit, bahkan sangat sulit! Namun sang pangeran kecil tetap berlari dan tak henti mengejar hingga separuh napasnya telah terbagi tuk pepohonan dan serangga-serangga kecil di sekelilingnya. Tanpa sadar, sang pangeran kecil mulai melukai si kupu-kupu…

***

Masa yang selalu saja berganti dan sekarang…

Si kupu-kupu sedang terbang bebas seorang diri. Tanpa seekor kupu-kupu lain menemani dan tanpa sorotan sepasang mata mungil yang dulu tak pernah lelah lari mengejarnya.

Si kupu-kupu mulai coba mencari suatu makhluk yang katanya bernama bahagia. Dia pun hinggap dari satu pohon ke pohon lain. Dia hisap madu di tiap-tiap bunga yang dijumpai. Dia tinggalkan jejak-jejak dari keenam kakinya yang terasa semakin kokoh. Tak sedetik pun ia menyerah pada waktu, pada dingin yang menusuk, dan pada malam yang menikam. Namun untungnya malam kini sedikit berbaik hati, dia perlihatkan kekasih-kekasihnya dengan muka penuh senyum.

Bintang-bintang menari riang di atas lensa si kupu-kupu. Angin menyanyikan lagu rindu dan terlelap.

Bahagia, aku mencarimu..

-Sang Pangeran kecil- 

_____________

Begitu terbangun, kupu-kupu melihat sepasang tatapan tajam yang tak asing. Tapi bola mata itu terlihat lebih bersemangat dari yang lalu. Ada sebuah harapan, ada sebuah penantian, dan sebuah kepuasan batin yang terlihat jelas.

Oh..tidak!!! Dia kembali mengejar si kupu-kupu yang kini tak kecil lagi. Samar terdengar dia berteriak “bahagia…!! Yah, kau bahagia!!”

Bahagia?

Ya Tuhan, ternyata selama beberapa musim sang pangeran kecil juga mencari makhluk bernama bahagia, seperti halnya si kupu-kupu. Dan kini, ia mengira kupu-kupu itu adalah bahagia. Lagi-lagi Pangeran kecil ingin mencoba menjamah sudut-sudut jari si kupu-kupu. Ah, ternyata dia tidak sanggup melakukannya. Pangeran kecil akhirnya terpaku, ujung-ujung langkah kecilnya selalu dihinggapi bayang. Bahkan sekarang bayang itu kembali menusuk silam duka.

Si kupu-kupu sudah tak sanggup lagi melanjutkan pencariannya akan bahagia. Melihat sang pangeran terpaku, kupu-kupu pun ikut terpaku.

Andaikan aku bisa berkata padanya kalau aku bukan bahagia,

kalau aku justru mencari bahagia,,

Perlahan sayap kupu-kupu melemah, terbangnya merendah, dan keindahan tubuhnya pun memudar.

Dia tak pernah mengenal cinta, tapi dia selalu yakin ‘kan bahagia..

________________

Bandung, 30.12.05

‘HBL’

In Catatan harian SHE on 23/04/2011 at 9:37 pm

“Iya, lo tuh kenapa sih She?

“She ga suka laki-laki. Dia ga butuh laki-laki. Dia hanya butuh map buat nuntun dia jalan. Itu juga sudah cukup”

“Kayaknya dia trauma, makanya dia benci banget sama yang namanya laki-laki..”

 “Semua laki-laki itu brengsek di mata She”.

_____________

Tidak, ini hanya masalah bagaimana aku selalu mengorientasikan akalku secara rasional, memandang segala sesuatunya selogis mungkin. Ini hanya masalah mengapa perempuan selalu jadi korban opresi seorang laki-laki. Bukan sengaja membuat masalah atau sekedar cari sensasi. Ini masalah prinsip. Prinsip untuk tidak disakiti lagi, untuk membentengi seluruh raga dan rasaku dari apapun yang bisa menumpulkan otak kiriku, juga dari semua yang bisa merangsang perasaanku hingga mengoyak kelenjar air mataku yang mungkin persediaan air mata di dalamnya hanya cukup untuk menangis dua kali lagi aku rasa.

Aku. She. Seorang perempuan yang masih punya hati nurani. Walaupun kata orang aku dingin. Walaupun rumput kering yang selalu ku injak dan matahari pagi yang hampir tidak pernah kusapa menganggapku Si Pongah yang Kesepian. Aku tetap seorang She. Perempuan yang  terperangkap pada pola pikir rasionalistis seorang laki-laki. Simpel. Tidak rumit. Dan satu kata sifat lagi yang cukup mendeskripsikan aku- mandiri.

Beberapa orang tahu mengapa aku memilih untuk sendiri, walaupun kadang mereka cenderung sok tahu. Lesbi kali! Ahaha..anehnya aku tidak pernah keberatan dengan tudingan seperti itu. Kalau aku boleh bocorkan sedikit rahasiaku, aku memang lebih suka memandangi perempuan-perempuan cantik daripada laki-laki tampan, tapi hanya sampai di situ saja kok. Kalau ada yang menyebutku angkuh, ya, mungkin, bisa saja, tidak salah juga. Apapun itu, satu hal yang perlu aku garis bawahi di sini adalah bahwa aku juga perempuan yang masih haus akan belaian laki-laki (kalau kata anak-anak muda jaman sekarang- entah konteks ‘sekarang’ di sini mulai periode tahun berapa hingga berapa- ‘HBL’). Dan perlu ditambah lagi dengan huruf Italic, hanya haus akan belaian laki-laki yang sepenuhnya bisa menghargai nilai-nilai seorang perempuan. Itu saja.

____________________

Bandung, 2005

Une féministe

In Catatan harian SHE on 23/04/2011 at 8:04 pm

Aku. She. Mungkin aku seorang feminis. Entahlah. Tapi aku setuju dengan apa yang ditulis Rosemarie Putnam Tong dalam bukunya yang berjudul Feminist Thought. Seorang feminis memiliki kebebasan penuh untuk memerdekakan cara berpikir mereka, pemikiran yang membawa mereka pada situasi penolakan untuk berhenti berubah, berhenti tumbuh. Bahwa pemikiran feminis tidak akan pernah berakhir sehingga memungkinkan setiap perempuan untuk berpikir dengan pemikirannya sendiri. Bukan kebenaran semata tetapi kebenaran yang akan membebaskan perempuan dari opresi patriarki. ‘Jika tubuh perempuan adalah suatu keseluruhan, keseluruhan itu terdiri dari bagian yang juga lengkap dan menyeluruh, dan bukan objek parsial semata-mata, melainkan suatu kesatuan yang terus bergerak dan berubah secara tidak terbatas’[1].

‘One is not born, rather becomes a woman’.[2]Perempuan tidak semata-mata dilahirkan, perempuan adalah suatu proses menjadi’. Dan proses menjadi tidak pernah berakhir. Aku. She. Seorang perempuan yang tak pernah berhenti berproses. Berpikir. Mencari jawaban logis atas segala apa yang terjadi, baik pada diriku juga orang-orang di sekitarku. Mencari alasan paling rasional atas apa yang membentukku seperti sekarang ini, membentuk pemikiranku dan pemikiran orang-orang terhadap aku. Menjawab keingintahuan mereka tentang alasan mengapa aku memilih untuk sendiri. Setidaknya hingga detik ini.

Pengetahuanku tentang feminis memang masih sangat dangkal. Tapi setiap ada yang menyebutku seorang feminis, akupun tidak menyangkal. Bahwa aku seorang perempuan yang terperangkap pada pola pikir rasionalistis seorang laki-laki. Pernah beberapa kali aku berpikir untuk menjadi seorang laki-laki (dengan begitu banyak alasan tentunya) – dan tanpa disangka menimbulkan banyak spekulasi dalam komunitas teman-teman laki-lakiku. Itu karena kebencianku terhadap laki-laki, tetapi juga karena kecocokanku dengan kelogisan cara berpikir mereka dalam beberapa hal. Itu karena aku merasa lebih nyaman bersama teman-teman laki-laki daripada teman perempuan yang cenderung sentimentil dan memperuwet keadaan. Tapi juga karena aku terlalu sering dikecewakan oleh laki-laki. Karena seringkali perempuan terlalu lemah untuk berpikir pakai otak, cenderung bahkan selalu pakai hati. Perasa. Naif. Jangan-jangan cinta menjadi sedemikian unlogic-nya karena perempuan?! Dancuk!

Aku menjadi sedemikian tidak mengertinya mengapa perempuan selalu menjadikan laki-lakinya sebagai ‘satu-satunya’ sedangkan laki-laki hanya menganggap perempuannya sebagai ‘salah satunya’? Pantas saja jika perempuan sering dijadikan objek opresi kaum adam, jika poligami lebih menjamur daripada poliandri, jika sebagian besar orang yang berselingkuh adalah laki-laki dan hanya perempuan bodoh yang mau diselingkuhi ataupun jadi selingkuhan. Dan ternyata jumlah perempuan seperti ini tidak sedikit.

Awalnya- bahkan hingga sekarang-  aku masih berpikir seperti itu. Secara logika, alasan paling rasional apa yang membuat perempuan mau jadi selingkuhan? Kalau jawabannya uang mungkin masih masuk akal (walaupun kita bisa menganggap itu adalah uang haram. Tapi lagi-lagi, money is not everything, but everything needs money). Lalu jika alasannya adalah hanya bersenang-senang? Dari sudut pandang seperti apa menjalin hubungan sembunyi-sembunyi, dibohongi dan membohongi bisa menciptakan sebuah pleasure? (secara batiniah terutama). Belum lagi jika ketahuan dan tidak bisa lari dari cap ‘perempuan perusak hubungan orang lain’. Selalu menjadi prioritas kedua. Cadangan jika bibir perempuan pertamanya tidak lagi ranum. Jika kata-kata sayangnya tidak lagi ampuh. Jika perasaan bosan dan ingin ‘bermain’ sedang menggoda laki-laki. Jika ‘jiwa penguasa’ laki-laki sedang bergejolak. Dimana posisi perempuan kedua ditempatkan oleh laki-laki? Tentunya tidak akan lebih baik dari tangan bocah ingusan menempatkan boneka kesayangan mereka. Sial! Sebenarnya siapa yang paling pantas untuk disalahkan dalam situasi ini? Laki-lakinya yang brengsek atau perempuannya yang bodoh?

Setidaknya aku masih yakin bahwa setiap manusia -perempuan khususnya- pasti memiliki alasan atas jalan hidup yang mereka pilih, atas cara pandang yang mereka yakini.  Seperti mengapa seseorang mau jadi selingkuhan atau diselingkuhi, tanpa logika, tanpa rasio, tanpa akal. Spekulatif tapi hampir pasti, itu semua karena sayang”, karena “cinta”. Ya, satu rasa yang tak seorang pun berhak melarangnya. Rasa yang tak pernah bisa dijabarkan secara logika. Absurd.

Oh..Tuhan, kenapa aku ini? Apa aku sebodoh itu? Apa aku sudah kehilangan akal sehatku? Atau aku sedang dibutakan oleh rasa yang tak pernah berani kusentuh selama ini? Aku ingin semua baik-baik saja. Aku ingin hubungan yang normal. Aku ingin dicintai dan mencintai laki-laki yang hanya dicintai dan mencintaiku. Aku tidak pernah ingin jadi yang kedua, meskipun aku juga tidak pernah ingin jadi yang pertama. Aku hanya ingin menjadi tunggal di hati laki-lakiku. Aku hanya ingin menjadi perempuannya, sendiri, tanpa ada bayang-bayang perempuan lain. Dan aku tidak pernah ingin terlihat lemah di mata laki-laki manapun.


[1] Cixous, Helene, “Utopias”, New Frencsh Feminism-An Anthology, New York, Schocken Books, 1981, hlm.259

[2] Beauvoir, Simone de, The Second Sex, Parshley. Terj., Vintage, 1997, hlm.295

__________________

Bandung, 2006

Halaman pertama;

In Catatan harian SHE on 23/04/2011 at 7:52 pm

Catatan harianku.

Bandung, tepat dua puluh enam bulan yang lalu. Aku. She. Memilih untuk sendiri. Mungkin terlihat lari dari kenyataan. Tapi aku hanya takut menyakiti dan disakiti lagi. Tidak pernah berani tuk kehilangan lagi. Belum sanggup jika harus jatuh lagi. Lukaku masih menganga lebar. Nyeri, ngilu, menusuk hingga ke tulang. Seperti dinginnya angin malam. Dan saat ini aku sedang ingin terbang. Keringkan semua luka-lukaku. Lupakan kenangan terpahit dalam perjalanan cintaku.

Dua puluh enam bulan. Dua tahun lebih dua bulan. Ternyata tak cukup lama untuk mengubahku. Seorang perempuan mandiri yang masih saja yakin jika semua akan baik-baik saja tanpa laki-laki. Aku. She. Seorang penyendiri yang tidak suka sendiri.

Aku memang senang menyendiri. Kadang. Tapi cukup sering juga walau tak sesering angin menerbangkan serbuk sari bunga-bunga di taman. Agak jarang, walau tak sejarang aku membaca buku-buku sejarah tentang masa lalu dan apapun yang pernah terjadi di masa silam. Padahal aku sangat benci dengan sepi, kalau bisa tak usah berkawan dengan sunyi. Tapi aku tidak suka sendiri. Menurutku sendiri itu pahit. Anehnya, aku juga risih dengan ramai. Tidak pernah merasa nyaman di tengah hingar bingar. Selalu ingin pergi dari sekumpulan manusia yang cinta gelak tawa. Entah mereka sedang menertawakan apa dan siapa?! Aku selalu butuh waktu untuk sendiri. Itu pasti! Sendiri dari sepi. Menyingkir dari dunia. Tersingkir dari manusia lain. Hanya ditemani makhluk kecil dengan sejuta pesonanya yang tersusun indah di kepaknya. Aku ingin tidur. Karena dengan lelap aku pasti sendiri. Nyaman. Damai. Tenang. Tuhan..aku ingin tidur di pangkuan-Mu. Bolehkah?

Jarum pendek di dinding telah menunjuk hampir ke angka empat. Aku harus segera tidur. Jangan sampai ayam pagi berkokok membangunkan aku yang belum sempat terpejam walau barang sedetik.

Aku benar-benar mengantuk. Aku ingin terpejam.

 

Selamat tidur sunyi

Jumpa lagi esok bersama sepi

Semoga senyap pun bisa ikut menemani

Karena aku takut sendiri..

 ________________________________________________________

Bandung 04.09.05

Sesudah hujan, Harry datang..

In Catatan harian SHE on 23/04/2011 at 12:21 pm

Pukul 09.45, udara di luar terasa begitu sejuk. Mungkin karena semalaman hujan terus menari bergelap-gelapan. Aku suka melihat pemandangan di luar sana, begitu tenang. Ruang kelasku memang terletak di lantai 4, lantai tertinggi di gedung fakultasku. Aku bisa menikmati setiap gerakan tubuh kupu-kupu di pucuk pohon ketapang. Menghirup bau sirap yang bisa kusentuh dengan mudahnya. Dari jendela sini aku dapat melihat dengan jelas isi ruang kelas di gedung lain, menarik! Mereka sama sekali tidak sadar jika ada sepasang mata sembab sedang mengamati apa yang mereka kerjakan, mencoba menebak mengapa mereka tersenyum, lalu apa yang membuat mereka terbahak, tanpa mereka sadari akan keberadaanku di seberang gedung sini.

Aku memang tidak sendiri dalam ruang kelasku. Aku sedang kuliah, sedang mendengarkan ocehan dosenku yang membosankan. Ia sepertinya tidak pernah sadar kalau mahasiswanya tidak pernah benar-benar memperhatikan kuliahnya. Bukannya kami tidak mau, tapi dia tidak memaksa. Dia juga terlihat tidak peduli kami memdengarkan atau tidak. Jadi jangan salahkan jika teman-temanku sibuk bergosip di belakang sana. Jangan heran pula kalau terlihat lebih banyak yang menggambar di kertas daripada yang melihat ke depan kelas. Beberapa tidur. Yang lain sibuk dengan laptopnya. Aku. She. Lebih memilih tuk diam sejenak. Duduk dekat jendela, membiarkan rambutku dibelai angin lembut hingga ke leher. Oh belaian itu, aku rindu. Sudah lama tangan hangatnya tak menyentuh kepalaku, belai halus mahkkotaku. Aku rindu Harry. Selalu rindau cara dia menatapku, menyentuhkan bibirnya di keningku, lalu ke mataku, dan perlahan mengambil perawan bibirku. Aku rindu senyum Harry jika aku sedang menggerutu. Aku rindu tawa Harry saat dia melihat mulutku yang belepotan es krim. Aku rindu dekap Harry ketika aku takut sendiri. Aku rindu saat kita bertengkar, aku yang selalu ngedumel dan dia yang selalu bias membuatku berhenti menangis. Aku rindu saat-aat kita bersenda gurau. Aku yang melucu dan dia hanya tertawa. Harry memang tidak terlalu pandai berkelakar, tapi dia selalu punya cara membuatku merasa nyaman, tidak pernah lupa, dan selalu rindu padanya.

Harry. Bagaimana kabarnya sekarang? Masih mengkhianati perempuan-perempuannyakah? Atau sedang sibuk bermain dengan peremapuan lainnya? Sebenarnya dia anak baik. Hanya saja dia belum cukup dewasa untuk seusianya. Masih ingin bermain, terus mencari bunga yang paling ranum untuk dihisap madunya. Kau tahu Harry? Aku selalu mengkhawatirkanmu. Aku takut ketika kau lelah terbang dan bermain, ketika kau ingin menetap di satu bunga saja, sudah tidak ada lagi mahkota-mahkota yang sudi menerima rapuh tubuhmu. Aku takut bunga-bunga itu menguncup karena tahu siapa kau dulu. Berhentilah Harry! Sebelum semua rumput meminta bunga-bunga di atasnya tuk layu saja, gugurkan mahkotanya, meminta mereka tuk jadi humus saja.

Lihat aku, Harry. Kini aku mulai belajar tuk merendah. Memelankan sayap-sayapku yang mulai rapuh. Bau tanah itu menyenangkan, Harry. Disini pun terasa lebih hangat, lebih banyak teman, nyaman. Kau pasti bosan di atas sana. Anginnya sangat dingin bukan? Tak ingin turunkah? Ada aku, Harry. Perempuan yang pernah menemanimu terbang dan bermain di atas sana. Perempuan yang pernah begitu saying padamu, yang bahkan sudi menjadi perempuanmu yang kedua. Pulanglah, Harry. Aku rindu.

Sepertinya dosen tua itu juga sangat rindu dengan kami. Sudah hampir dua jam dia di depan sana, tapi tetap saja mengoceh, seperti enggan meninggalkan kami bernapas lega di ruang kelas ini. Masih ada pertemuan minggu depan wahai lelaki tua, berhenti sajalah! Kami benar-benar sudah tidak kuat. Penat.

______________________________________________

Bandung, 26.11.08