journal de 'SHE'

Archive for the ‘Puisi SHE’ Category

Sederhana saja..

In Puisi SHE on 23/04/2011 at 11:13 pm

Sayang ini hanya sebuah rasa yang sederhana

Ingin melindungi, saling berbagi dan mengisi

Selalu ada entah itu saat tertawa atau tangis yang mengisak

Sayang ini hanyalah satu bentuk ketulusan

Ikhlas memberi tanpa mengharap asa kan terbalas

Ikut tersenyum saat kau temui bahagiamu

Juga merasa pedih ketika ragamu tak lagi kuat menahan jiwa yang lemah

Sederhana saja,

Aku ingin berbagi dan mengisi setiap hela nafasku kemudian melangkah di sampingmu

Aku ingin menciptakan garis tawa dan menghapus air mata mu

Aku ingin ada ‘kita’ setiap akan memejamkan mata hingga kembali terbangun saat adzan subuh tiba

Aku ingin semua itu karena aku sayang kamu

Sederhana kan?

Sayang, lalu apa yang membuatmu memintaku membunuh sayang itu?

________________

Bandung, 02.05.08

Advertisements

Balada dua hati

In Puisi SHE on 23/04/2011 at 11:11 pm

Mengapa rasa sayang itu harus hadir bersama rasa sakit?

Ketika kau melihat  aku menangis, tak perlu bingung atau merasa bersalah

Karena tiap tetes yang terjatuh, itu nunjukin kalau aku makin sayang walau akupun makin terluka karenanya


Apa yang harus kuperbuat bila rasa sayang itu menimbulkan luka?

Tidak hanya untukmu, tetapi duri tajam itu mengiris dasar hatiku

Mengapa sayang yang hadir harus menimbulkan luka?

Tuhan..hukumlah aku!

Karena aku pria lemah yang tak bisa menjaga perasaan hatimu


Tidurlah..

Mungkin hanya bunga tidur yang bisa membuang semua rasa sakit itu

Aku pun ingin terlelap bersama jutaan rasa sakit dari luka-luka ku dan baru akan terbangun ketika aku siap  tuk kembali disakiti


Apa gunanya bunga tidur jika kau tetap sakit setelah terbangun?

Apa gunanya aku bila kau selalu sakit karena aku?

Memang pedih, pedih juga di hatiku

Namun ku hanya bisa merasa tak ada yang bisa kuperbuat karena aku hanya manusia yang tiada arti

 __________

Keduanya pun mulai lelah,

Bersama senyap malam akhirnya mereka terlelap dengan tetap menyimpan rasa sayang di tiap relung jiwa mereka, walau mereka harus  tertidur dengan rasa sakit yang amat sangat..

 ___________________

Bandung, 18.01.07

 

Batas lelahku

In Puisi SHE on 23/04/2011 at 11:07 pm

Aku sadar,

Dia rapuh, bahkan terlalu rapuh untuk memilih antara yang nyata dengan yang absurd

Sayang yang absurd, cinta yang absurd, aku yang absurd

Syukurnya aku kuat, aku benar-benar kuat, aku harus kuat!

Karena ini bukan yang pertama

Karena ini jalan yang kita pilih bersama

Kita – aku dan asmara

Ra.. (begitu biasa aku menyebutnya)

Terimakasih telah hadir dalam hari-hariku walau sesaat

Terimakasih telah sayang padaku walau sedikit

Terimakasih telah membuatku tersenyum walau sebenarnya terasa sakit

Sekarang aku minta, tolong enyah dariku, Ra!

Karena tanpamu (ku harap) kutemukan kebahagiaanku

Akhirnya,

Ketika dia kembali pada seseorang yang dicintai dan mencintai

Akupun kembali pada sendiri yang kucintai dan mencintai

Dan lagi dengan sebuah tanda tanya besar;

Kapan akan kau tamatkan kisah ini??

Demi Tuhan, Ra, aku benar-benar sudah lelah..

__________

Bandung, 29.12.06

Berhenti bertanya mengapa aku menangis!

In Puisi SHE on 23/04/2011 at 11:03 pm

Semua mulai bertanya,

Semua mulai berteriak,

“Hentikan keputusasaan itu!

  Hidup masih panjang walau tak selamanya indah

  Jalan masih banyak walau dengan ratusan cabangnya

  Dan masa depan masih menunggu walau entah kebahagiaan atau

  air mata (lagi) yang akan ia tawarkan”

Aku pun kembali bertanya dan akhirnya berteriak,

“Aku harus apa?!!”

Tolong, berhenti bertanya mengapa aku menangis..

Aku mulai lelah,

Aku mulai tak bertenaga,

Jiwa.. raga.. hati

Aku ada hanya untuk mati.

___________

Bandung, 15.12.06

Sepasang kaki lelaki

In Puisi SHE on 23/04/2011 at 11:00 pm

Aku hanya melangkahkan kedua kakiku seiring hembusan angin tanpa kaki-kaki lain menemani

Tak tahu berapa jarak telah kutempuh hingga jejari kian melepuh

Terseok bersama ratusan lembar daun kering, gersang!

Hanya banyang yang terbayang

Lalu datang sepasang kaki lain

Aku kira ia datang untuk menemani, tapi nyata langkahnya hadir beserta ucapan mengasihani:

‘Sebaiknya kau cari sepasang kaki lelaki agar kau tak lagi sendiri’

____________ 

Bandung, 07.08.06

Tinta dan Kertas

In Puisi SHE on 23/04/2011 at 10:58 pm

Setiap aku kesulitan tuk memejamkan mataku dan hijrah ke alam tak sadarku

Aku minta pada tinta tuk sejenak menjenguk kertas

Sekedar menyapa atau bahkan menumpahkan segala yang kurasa

Mungkin hari itu aku sedang sedih, mungkin juga bahagia atau malah sedang bingung

Apapun itu, tinta dan kertas tak pernah bertanya

Bukan karena mereka tak peduli, tapi karena mereka begitu mengerti kalau aku sedang ingin didengar

Bukan diintrogasi!

________________

Bandung, 20.07.06

Mengapa aku begitu angkuh?

In Puisi SHE on 23/04/2011 at 7:58 pm

Jika pongah tubuhku begitu membuatmu muak, maka jangan pernah mengemis sesuatu pun merengek akan hal yang jelas tak ku punya.

Jika bibirku tak pernah sunggingkan senyum dan mataku selalu tajam pamerkan kalau aku sanggup bertahan dalam kesendirianku, kemudian kakiku yang dengan tegas melawan arah angin membuat dedaun kering terseok seakan tunduk pada keangkuhan yang mengkungkungku, itu semata-mata mementaskan sandiwara seorang gadis yang kesepian.

Lalu jika kau (sebagai penikmat) hanya bisa berinterupsi, sebaiknya bungkam semua itu!

Karena tak sesuatupun dapat merajam api yang menyiksaku!

Entah api apa yang lidahnya tidak hanya membakar asa, tapi juga kepercayaanku tuk kembali mencintai.

Untuk kaum Adam, silahkan cari Hawa lain!

___________________________________

Bandung, 04.09.05


Tuhan lupa!

In Puisi SHE on 23/04/2011 at 11:43 am

Tuhan.

Aku ingin bertemu, malam ini saja, Tuhan!

Banyak yang ingin aku tanyakan dan aku ingin jawabannya malam ini juga.

Setiap Kau kirimkan malam tuk setiap makhlukMu agar mereka semua beristirahat, mati sejenak, dan berpisah dengan rohnya, aku malah harus melawan ragaku dengan segenap asa.

Apa Kau lupa mengambil ruhku?

Aku ingin terpejam, bukannya bermain dengan tinta-tinta ini!

Aku ingin terlelap, tidak menangis karena lagi-lagi harus berpapasan dengan bayang-bayang masa lalu!

Aku benar-benar ingin mati dari derita.

Istirahat sejenak dari rasa rindu.

Seandainya Kau memberikan aku kesempatan untuk menghapus satu hal saja yang ada di hatiku, aku ingin Kau hapus dia, Tuhan!

Ya, kalau memang belum tiba saatku menghadapMu, bagaimana kalau dia saja yang Kau panggil duluan? Bisa?

Hhh.. sudah pukul satu malam, memgapa tak Kau panggil juga ruhku ini?

Malah Kau kirimkan ruhnya tepat di hadapku!

Di sisiku, di bantalku, di gulingku, bahkan hingga terasa di leher dan bibirku.

Hei kau!

Berhenti ciumi apa-apa yang ada di tubuhku!

Aku ngantuk! Bagaimana kalau kita tidur sama-sama saja?

Saling berpelukan tuk yang terakhir kalinya..

____________________________________________________

Bandung, 13.12.07